Contoh Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Berikut ini adalah contoh penerapan Model Pembelajaran
Berbasis Masalah pada mata pelajaran Matematika Kelas V
Semester 1 Sekolah Dasar.
I. Standar Kompetensi
2.Menggunakan pengukuran waktu, sudut, jarak, dan
kecepatan dalam pemecahan masalah
II. Kompetensi Dasar
2.1 Menuliskan tanda waktu dengan menggunakan notasi 24
jam
III. Indikator

  •  Siswa dapat membaca tanda waktu dengan notasi 24 jam (termasuk keterangan siang, sore, dan malam)
  •  Siswa dapat menuliskan tanda waktu dengan notasi 24 jam.

IV. Kegiatan Pembelajaran
1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran materi ini.
2. Guru mengajukan permasalahan yang berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari siswa.
3. Guru meminta siswa mempelajari dan menyelesaikan masalah tersebut. Siswa diminta mempresentasikan hasil jawabannya, guru memberikan respon  dan membimbing seperlunya menuju jawaban yang benar.
4. Guru memberikan Lembar Latihan (terlampir) pada siswa.
5. Guru  meminta    siswa   mengemukakan idenya bagaimana cara memecahkan masalah tersebut.
6. Guru  membimbing/mengamati siswa dalam menyelesaikan masalah yang ada dalam Lembar Latihan.
7. Guru mendorong siswa menyajikan hasil pemecahan      masalah dan  membimbing bila menemui kesulitan.
8. Guru memberikan pemantapan materi.
9. Guru melakukan evaluasi pembelajaran.
10. Penutup.

Posted in Contoh Penerapan Model Pembelajaran, Model Pembelajaran, Model Pembelajaran Berbasis Masalah, Pembelajaran Berbasis Masalah | 1 Comment

Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Menurut Arends (Nurhayati    Abbas, 2000:4),
penerapan model pembelajaran berbasis masalah terdiri dari
lima langkah. Kelima langkah itu adalah

(1) mengorientasikan siswa pada masalah;

(2) mengorganisasikan siswa untuk belajar;

(3) memandu menyelidiki secara mandiri atau kelompok;

(4) mengembangkan dan menyajikan hasil kerja; dan

(5) menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah.

dihimpun dari berbagai sumber

semoga bermanfaat

Posted in Model Pembelajaran, Model Pembelajaran Berbasis Masalah, Pembelajaran Berbasis Masalah | Leave a comment

Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Arends (Nurhayati Abbas, 2000:12) menyatakan
bahwa model pembelajaran berdasarkan masalah adalah
model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa
pada masalah autentik, sehingga siswa dapat menyusun
pengetahuannya sendiri, menumbuhkembangkan
keterampilan yang lebih tinggi dan inquiri, memandirikan
siswa, dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri.
Model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan
nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk
melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan
menyelesaikan masalah, serta mendapatkan pengetahuan
konsep-konsep penting. Pendekatan pembelajaran ini
mengutamakan proses belajar dimana tugas guru harus
memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai
keterampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berdasarkan
masalah penggunaannya di dalam tingkat berpikir lebih
tinggi, dalam situasi berorientasi pada masalah, termasuk
bagaimana belajar (Nurhayati Abbas, 2000:12).

dihimpun dari berbagai sumber

semoga bermanfaat

 

Posted in Model Pembelajaran, Model Pembelajaran Berbasis Masalah, Pembelajaran Berbasis Masalah | Leave a comment

Karakteristik Siswa dalam Belajar Matematika

Ebutt dan Straker (Depdiknas 2004: 4), menjelaskan bahwa agar
potensi peserta didik di bidang matematika dapat dikembangkan secara
optimal maka karakteristik siswa dalam belajar matematika perlu
diketahui.
Adapun karakteristik tersebut adalah :
1). Siswa akan mempelajari matematika jika mereka mempunyai
motivasi. Implikasinya : Guru memberi kegiatan yang menyenangkan,
menantang, yang memberi harapan, yang dihargai keberhasilannya.
2). Siswa mempelajari matematika dengan caranya sendiri.
Impilkasinya : Siswa belajar dengan cara dan kecepatan yang berbeda,
guru harus tahu kekurangan dan kelebihan siswa.
3). Siswa mempelajari matematika baik secara mandiri maupun
kelompok. Implikasinya : Guru memberikan kesempatan belajar
secara mandiri atau kelompok, melatih kerjasama, mengajarkan cara
mempelajari matematika.
4). Siswa memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda dalam
mempelajari matematika. Impilkasinya : Guru menyediakan media
pembelajaran yang diperlukan.

Posted in Belajar Matematika, Karakteristik Siswa | Leave a comment

Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
siswa (Anonim, 2001) adalah :
a. Faktor dalam yang meliputi :
1. Kondisi fisiologi
Kondisi fisiologi pada umumnya berpengaruh terhadap belajar
seseorang, jika seseorang belajar dalam keadaan jasmani yang segar
akan berbeda dengan seseorang yang belajar dalam keadaan sakit.
2. Kondisi psikologis
Beberapa faktor psikologis antara lain :
a) Kecerdasan
Kecerdasan seseorang besar pengaruhnya dalam keberhasilan
siswa dalam mempelajari sesuatu.
b) Bakat
Selain kecerdasan, bakat juga besar pengaruhnya terhadap
proses dan hasil belajar siswa.
c) Minat
Jika seseorang mempelajari sesuatu dengan minat yang besar,
maka dapat diharapkan hasilnya akan lebih baik. Tetapi jika
seseorang belajar dengan tidak berminat maka hasil yang
diperoleh kurang baik.
10
d) Motivasi
Motiasi adalah dorongan anak atau seseorang untuk melakukan
sesuatu, jadi motivasi adalah kondisi psikologi yang mendorong
seseorang untuk belajar.
Pada dasarnya hubungan motivasi dengan belajar adalah
bagaimana cara mengatur motivasi yang dapat ditingkatkan
supaya hasil belajar dapat optimal sesuai dengan kemampuan
individu.
e) Kemampuan Kognitif
Kemampuan kognitif atau kemampuan penalaran yang tinggi
akan membantu siswa dapat belajar lebih baik dari pada siswa
yang memiliki kemampuan kognitif sedang.
b. Faktor Luar
Yaitu faktor yang berasal dariluar diri siswa yang dapat
mempengaruhi hasil belajar siswa.
Beberapa faktor luar antaralain:
1. Faktor Lingkungan, antaralain:
a) Lingkunga alam, yaitu kondisi alam yang dapat berpengaruh
terhadap proses dan hasil belajar.
b) Lingkungan social, baik yang berwujud manusia atau yang lain
yang langusng dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar.
11
2. Faktor Instrumen
Adalah faktor-faktor yang ada dan penggunaannya dirancang sesuai
dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini meliputi:
a) Kurikulum
Kurikulum yang belum mantap dan sering adanya perubahan
dapat mengganggu proses belajar.
b) Program
Program yang jelas tujuannya, sasarannya, waktunya mudah
dilaksanakan, akan dapat membantuproses belajar.
c) Sarana dan Fasilitas
Keadaan gedung dan tempat belajar, penerangan, ventilasi,
tempat duduk dapat mempengaruhi keberhasilan belajar. Sarana
yang memadai akan membuat iklim yang kondusif untuk belajar.
d) Guru dan Tenaga Pengajar
Kelengkapan      jumlah   guru,  cara   mengajar,    kemampuan,
kedisiplinan yang dimiliki oleh setiap guru dapat mempengaruhi
proses dan hasil belajar siswa. Guru yang professional akan
mengembangkan         kemampuannya       melalui      pendekatan.
Pendekatan akan mampu menciptakan suasana aktif sehingga
tujuan yang direncanakan dapat tercapai.

Posted in Faktor Instrumen, Faktor Lingkungan, Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar, Hasil Belajar, Kondisi fisiologi, Kondisi psikologis | Leave a comment

Pengertian Belajar

Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif
tetap sebagai hasil dari pengalaman.
Pembelajaran merupakan upaya penalaran lingkungan manusia
agar program belajar tumbuh, dan berkembang secara optimal. Menurut
Fortuna (1981:147) proses belajar bersifat internal dan unik dalam
individu siswa, sedangkan pembelajaranbersifat eksternal yang sengaja
direncanakan bersifat rekayasa perilaku. (Fortuna 1981:147)
Menurut Sudjana (1985:5) belajar adalah proses yang disadari
dengan perubahan pada diri seseorang sebagai hasil proses dalam bentuk
pengetahuan pemahaman sikap tingkah laku, keterampilan, kecakapan,
kebijaksanaan serta perubahan aspek-aspek lain pada individu yang
belajar.ss
Menurut Poerwodarminto (1982:768), hasil belajar adalah hasil
yang telah dicapai atau dikerjakan.
Menurut Nasution (Sumaryani,2002:7), belajar adalah penambahan
pengetahuan pada diri seseorang, belajar sebagai perubahan tingkah laku
berkat pengalaman dan latihan.
Hamalik (1991:6) belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri
seseorang berkat pengalaman dan pelatihan.

Posted in Pengertian Belajar, Pengertian Belajar Menurut Sudjana | Leave a comment

SISTEM ADMINISTRASI NEGARA RI

Administrasi Negara, dilihat dari segi Analisa Sistem :
Sistem adalah merupakan kebulatan dari bagian yang saling bergantung.
Sistem terdiri dari gugus-gugus komponen yang bekerja sama untuk kepentingan tujuan sebagai suatu keseluruhan
Sistem adalah kompleks unsur-unsur yang saling berinteraksi.

( Interaksi = bahwa di antara unsur-unsur tersebut saling berhubungan )

Komponen-komponen (unsur) dlam Administrasi Negara dilihat dari Analia Sistem :
1. Lingkungan
2. Input (dari lingkungan)
3. Konversi (pengubahan/proses pengubahan)
4. Output
5. Feed back

1.) Lingkungan
Mencakup berbagai macam gejala (sosial, eonomi, politik, budaya, hankam)
Gejala adalah masalah/bajan yang dapat digunakan oleh pemerintah (Adm. Negara) di dalam membuat suatu kebijaksanaan. Gejala tersebut mungkin dapat mempercepat (membantu) atau menghambat (menghalangi) pemerintahan (Adm Negara) di dalam membuat suatu keputusan.
Lingkungan terdiri dari :
a. Langganan ( Siapa saja yang mendapatkan pelayanan barang dan jasa )
b. Pasar ( yang menentukan biaya dari barang dan jasa yang akan dikomunikasikan )
c. Golongan kepentingan ( anggota masyarakat dan pejabat pemerintah, baik yang mendukung maupun yang menolak kebijakan pemerintah )
d. Badan badan lain yang menjadi konsumen daripada kebijaksanaan

2.) Input dari lingkungan
Input dapat dikatakan sebagai suatu transmisi yang dikirim dari lingkungan ke dalam proses konversi

Input dapat berupa :
Tuntutan :
Masyarakat menuntut barang-barang dan jasa-jasa dari negara untuk mereka konsumsikan. Contoh : pendidikan; kesehatan; rekreasi; keamanan; dll.
Masyarakat menuntut pengaturan perilaku pihak-pihak lain. Contoh : perilaku dari alat-alat negara.
Masyarakat dapat menuntut kebebasan kebebasan dalam rangka melakukan kegiatan-kegiata spiritual. Contoh : ibadah; merayakan hari besar agama.

Suatu tuntutan pada hakekatnya adalah analitis, tidak harus melukiskan sifat interaksi antara rakyat engan administrator; suatu tuntutan dapat berbentuk permintaan bukti akan suatu jasa.

Sumber-sumber kekayaan :
Sumber daya manusia
Kekayaan alam/sumber daya alam
Skill
Teknologi
Uang/keuangan
Metode-metode

Dukungan, oposisi/sifat masa bodoh :
Kewajiban membayar pajak
Kesediaan penerimaan pengaturan perilaku yang dibuat oleh pemerintah
Bagaimana sikap masyarakat terhadap perilaku administrator (mendukung atau menolak )

Saluran input kedalam proses konversi ini tidak saja berasal dari sektor swasta, namun juga berasal dari badan-badan pemerintah yang lain : lembaga eksekutif, lembaga legislatif, lembaga yudikatif. Input dapat berupa Undang-undang; instruksi-instruksi; peraturan pemerintah; penilaian kepala eksekutif; penilaian hakim; dsb

3.) Konversi
Yang berfungsi sebagai pelaku kegiatan-kegiatan administratif dalam proses ini adalah : unit-unit administratif yang dilaksanakan oleh para administrator.
Bekerja dipengaruhi oleh : input; keadaan dan susunan organisasi dari proses konversi yang bersangkutan, untuk 1. pengambilan keputusan, 2. pelaksanaan keputusan, 3. pengendalian, 4. tindakan. Dengan melibatkan personil yang bekerja atas dasar :
a. Struktur organisasi yang ada,
b. Prosedur yang telah ditetapkan,
c. Keahlian, pengalaman pribadi dan kecenderungan yang dimiliki,
d. Cara-cara yang telah ditetapkan bagi para administrator dalam melakukan pengawasan terhadap bawahan.

4.) Outputs
Yang dihasilkan oleh administrasi negara dapat berupa :
Barang dan jasa seperti diinginkan masyarakat.
Pengaturan berbagai macam perilaku
Penyampaian informasi, dll

( Perwujudan dari tuntutan-tuntutan atau keinginan-keingainan; baik masyarakat, maupun cabang pemerintahan yang lain )

5.) Feed back
Mengambarkan pengaruh dari outputs terdahulu yang telah dinilai oleh konsumen (cocok/kurang cocok/tidak cocok)
Dengan harapan untuk dijadikan inputs baru dalam konversi berikutnya.
Untuk menghasilkan output baru yang lebih sesuai.

Mekanisme umpan balik ini merupakan bukti berkelanjutannya interaksi antara para administrator dengan sumber-sumber masukan dan konsumen/pemakai output mereka. Mekanisme ini juga menunjukkan bahwa proses selalu dinamis dan sirkuler.

Definisi kerja dari Sistem Administrasi Negara :
Suatu proses dinamik yang berkelanjutan dan bersifat sirkuler, dimana masukan diubah menjadi keluaran, yang selanjutnya keluaran akan menjadi umpan balik sebagai masukan baru bagi pengubahan baru untuk menghasilkan keluaran baru, dalam rangka mewujudkan kebijakan pemerintah/negara

Posted in NEGARA RI, SISTEM ADMINISTRASI, SISTEM ADMINISTRASI NEGARA RI | Leave a comment